Sunday, 20 June 2010

Mutiara Itu Telah Hilang, Kini Tinggal Kerikil Hitam

Membaca artikel "Mutiara Itu Telah Hilang, Kini Tinggal Kerikil Hitam" hati kecilku terharu, sungguh dalam artikel dari Zulfahani ini. Saya ingin menyebarkan artikel ini agar pengarangnya tambah terkenal. Bagi zulfahani salam kenal sobat. dari zulfani.com

Bu, mutiara itu telah hilang. Dulu kau titipkan mutiara itu padaku sebelum aku pergi meninggalkanmu. Aku masih ingat derai air mata saat kau melepasku. Aku bawa sejuta impian dan harap itu hanya untukmu, agar kelak kembali ke pangkuanmu dengan kilauan mutiara-mutiara lain yang sama indahnya.

Tapi waktu selalu punya misteri. Kadang tidak pernah kita mengerti. Perjalanan panjang hidupku telah banyak membuat mutiara semakin pudar. Lama kemudian aku lupa menaruh di mana mutiara itu. Akhirnya saat aku sadar bahwa kau dulu pernah menitipkan sebuah mutiara padaku, aku berusaha mencarinya lagi. Namun sayang bunda, mutiara itu telah hilang. Aku tak lagi menemukan jejaknya.

Kini rela tidak rela, mau tidak mau, yang tersisa di tempat mutiara itu hanya sebuah kerikil kecil berwarna hitam. Tapi sungguh bunda, dulu aku meletakkan mutiara itu di situ. Tapi sekarang entah di mana lagi. Apa dayaku untuk mengembalikan mutiara itu lagi? Aku kini sudah bukan putera kecilmu yang dulu kau banggakan di depan tetanggamu karena aku selalu mendapat ranking 1 di sekolah.

Aku bukan lagi sang jawaramu yang dulu selalu pulang membawa piagam dan piala hasil lomba ilmu pengetahuan alam dan matematika. Aku kini… ah sungguh aku tak mau menceritakan keadaanku bunda, karena kau pasti akan bersedih. Yang jelas aku bukan lagi aku yang dulu.

Mungkin kau tak pernah tahu, bunda, kalau aku selalu berbohong ketika kau tanyakan keadaanku. Saat kau tanya apa aku bahagia di sini, aku selalu jawab aku sangat bahagia di sini. Padahal tidak pernah aku lewati waktu-waktu terjagaku dengan hati berbunga di sini. Semua nampak layu, dan kau tak pernah tahu itu.

Sekarang aku takut untuk pulang bunda, walau aku sangat rindu padamu. Ingin aku bersimpuh dan mencium telapak kakimu. Tapi rasanya aku tak punya nyali jika nanti kau tanyakan “Mana mutiara yang dulu bunda titipkan?” Rasanya bibir ini tak sanggup jika harus jujur bahwa mutiara itu telah hilang dan berganti kerikil hitam yang bercampur pasir sahara.

Bunda, apa aku harus membawa pulang kerikil hitam ini? Membawa pulang dan menyerahkannya ke telapak tanganmu? Telapak tanganmu terlalu suci untuk menerima kerikil hitam yang kotor ini. Kerikil ini entah dari mana asalnya. Entah dari sahara atau tong-tong sampah. Tapi apa yang bisa aku bawa pulang? Aku tak lagi memegang mutiara itu.

Apa aku harus tidak pulang?
Tidak, aku sangat rindu padamu. Aku tak mungkin di sini selamanya. Aku pasti pulang. Tapi tentunya aku tak membawa mutiara itu. Mutiara telah hilang, bunda. Hilang entah kemana. Dan aku tak memegangnya lagi… Maafkan aku bunda…

Mutiara Itu Telah Hilang, Kini Tinggal Kerikil Hitam karya Zulfani

Mutiara Itu Telah Hilang, Kini Tinggal Kerikil Hitam

Setelah membaca artikel ini kami mohon anda merecommeded dengan mengklik g+ diatas.

No comments:

Post a Comment

free counters